Sunday, March 29, 2015

Sebulan belakangan ini  saya mulai belajar tentang mengelola keuangan. Kalo ngomongin masalah keuangan, sudah tentu luas banget pembahasannya, hehehe. 


So, kali ini saya akan ngeshare tentang definisi utang baik dan utang jahat berdasarkan buku HEMAT BISA MISKIN, BOROS PASTI KAYA karya Rina Dewi Lina.

Utang terbagi menjadi 2 jenis, yaitu utang baik (utang produktif) dan utang jahat (utang konsumtif).

Utang baik atau yang disebut dengan utang produktif adalah utang yang dapat meningkatkan aset dan menambah penghasilan.

Contoh utang baik adalah ketika kamu berhutang untuk mencicil rumah. Lalu, rumah yang kamu cicil tadi kamu kontrakkan kepada orang lain. Nah, hasil pembayaran rumah yang kamu kontrakkan tadi kamu gunakan untuk membayar cicilan rumah. Dengan begitu, kamu tidak perlu menyisihkan uang untuk pembayaran cicilan rumah tiap bulan atau tahunnya karena kamu sudah mendapatkan uang pembayaran cicilan dari penghasilan kamu mengontrakkan rumah yang sedang kamu cicil tadi. Mudah bukan? Contoh lainnya adalah, kamu mencicil motor untuk usaha antara jemput, mencicil mobil untuk disewakan.

Utang jahat atau yang disebut dengan utang konsumtif adalah utang dari barang yang harganya terus menurun, atau lebih mudahnya utang ini bisa juga disebut utang yang digunakan untuk keperluan pribadi. Utang kartu kredit termasuk dalam utang jahat.

Contoh dari utang jahat adalah ketika kamu berhutang untuk keperluan pribadi, misalnya kamu membeli alat musik. Namun alat musik tersebut tidak dapat menghasilkan uang dan menambah beban pengeluaran tiap bulannya. Contoh lainnya adalah, ketika kamu utang untuk membeli baju lebaran, membeli smartphone.

Namun perlu diingat, utang baik dan utang jahat keduanya akan bernilai buruk ketika kamu menggunakannya hanya untuk bergaya atau gengsi serta tidak dapat menghasilkan uang.

Utang baik dan utang jahat keduannya akan bernilai baik ketika utang tersebut dikemudian hari dapat memberikan penghasilan tambahan dan memberikan rasa nyaman untuk kamu.

Oleh karena itu, saya mengingatkan marilah kita bersama-sama mengubah pola pikir konsumtif ke pola pikir selektif. Dengan kata lain, mendahulukan kebutuhan primer dan memikirkan ulang setiap kali akan membeli sesuatu yang termasuk kebutuhan tersier.
Itulah salah satu dari beberapa hal yang saya pelajari sebulan belakangan ini, and Correct me if I Am Wrong. Ok? ^_^v

Best Regards.

1 comment:

  1. Terima kasih sudah share dan mencuplik tulisan saya. Senang bila buku itu bermanfaat

    ReplyDelete

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!